Friday, April 04, 2008

love kurt

Sunday, March 09, 2008

slum40.bookrental (you are what you read)

Friday, May 18, 2007

no rule to be cool


Saturday, March 17, 2007

najis, eh narsis!




Saturday, February 24, 2007

zuhud

demi dia yang ku cinta,
rela kutinggalkan; apapun itu yang ku suka!

Friday, January 19, 2007

foolish act


kompor


revolusi


Friday, December 08, 2006

Nasib Puisi Pop

Poppysi menggonggong
Ingin disayang; genit genit merayu

Kita pun berlalu...

Wednesday, November 29, 2006

Iman

Pernahkah kita berbicara empat mata, bergerak bersama menuju arah yang sama? Kebebasan! Itulah tujuan-nya.

... ...

Memang sudah menjadi rahasia umum bila di bumi nusantara ini rakyat selalu dimiskinkan, pers selalu dibungkam (ada hanya dijadikan alat), aktivis pro-demokrasi dipenjara bahkan bila perlu dibinasakan, organisasi kemahasiswaan dan pemuda dikebiri, wakil rakyat sejati di-recall, bahkan aspirasi rakyat pun disumbat. Sering kita mengalami hal tersebut hingga terbiasa dan menjadikan penindasan adalah sesuatu hal yang wajar. Sadarkah kita?

Bahwa kita adalah manusia; yang hakikatnya adalah kehendak bebas, bukan budak dari kebiasanya! Setidaknya itulah yang ingin aku katakan. Percayalah...Dilihat dari aspek manapun semua bentuk penindasan adalah kejahatan, dan menghancurkan semua itu adalah wajib adanya.

Hadis Rasulullah Saw: "Barang siapa diantara kamu menjumpai kemungkaran maka hendaklah ia rubah dengan tangan (kekuasaan) nya, apabila tidak mampu hendaklah dengan lisanya, dan jika masih belum mampu hendaklah ia menolak dengan hatinya. Dan menolak dengan hatinya itu adalah selemah-lemahnya iman". (HR Muslim)

Begitulah...
Kita adalah jiwa bebas! Menjadikan "pergerakan" secara kreatif sebagai senjata penghancur tirani adalah iman buat kita. Menyadarkan masyarakat dari mimpi panjang "kebiasaan" nya, itulah tugas kita. Karena manusia bebas tak hanya bicara. Manusia bebas selalu menolak penindasan dengan gerak bukan dengan diam, karena kita sadar bahwa menolak tirani dengan "diam" itu adalah selemah lemahnya iman.

Sekali lagi teman; selemah lemahnya iman!

Monday, November 27, 2006

rindu

beginilah awal
dari rindu itu;

bermula
dari rintik hujan
menjadi besar
hingga mengancam
datangnya badai besar!

Sunday, November 26, 2006

stop parno


Thursday, October 19, 2006

pendua

ketika cinta tlah kau bagi, kau akan tahu;
kuda atau manusiakah yang ada di hatimu!

Tuesday, October 10, 2006

Firman Toohan

Oh, sayang...dengarlah Aku bicara!

Ketika hidup adalah hidup, dimana tangan adalah tangan....
Pegerakan adalah diam!
Adakah jalan mudah ketika engkau berkata, biarlah itu terjadi layaknya batu yang menunggu waktu?
Haruskah Aku mencintaimu lagi ketika dirimu adalah pergi?

Oh, sayang...Dengarlah Aku bicara!

Ketika engkau adalah diam
ketika diam adalah diam ketika diam adalah gerak tanpa usaha
Dirimu; "Bukanlah tangan yang mengepal dimana jari adalah jari yang menekuk dimana garis adalah garis tanda gerak"

Oh, sayang...Dengarlah Aku bicara!

Ketika engkau perlahan meninggalkanku
Ketika dusta engkau rubah cinta ketika cinta engkau rubah dusta
Dirimu; "Bukanlah baju yang menutupiku dimana sutra adalah sutra yang terajut dimana Aku adalah Aku bukanlah waktu yang tersirat"

Oh, sayang...Dengarlah Aku bicara!

Adakah jalan singkat menuju surga?
Ketika;
Darimu Aku melihat diriku,
Dariku Aku melihat dirimu, ragu; Bergerak maju menuju arah-Ku!

Allah

engkaulah cinta yang menciptakan aku dari jiwa yang satu

Hidup

hidupku
layaknya kaca
bila tak dijaga
terberai
hancurlah akhirnya

Pergi Tuk Kembali

sssstt...
larilah sejauh
yang engkau mau
tapi ingat...
hidup itu bilangan hampa
darimana engkau pergi
kesana pula engkau kembali

Monday, October 09, 2006

tidur...

memasuki kematian;
bagiku sama halnya dengan memasuki tidur

tidur itu mengenakan
maka mati pun mengenakan
hanya saja, ketika aku terbangun dari ketidak sadaran
aku dapati diriku ada diluar lain kehidupan

Monday, September 11, 2006

Naif

Rindukah engkau terhadap bidadari?

Jawabku: 'tidak!'
Aku kekal tak pernah mati
Cintaku suci
Tulus tak terbagi

Engkau adalah kekasihku,
aku adalah kekasihmu
Total
Karena aku tak kenal orang selain engkau

Putus Asa

Hidup Mati; adalah
2 peristiwa 2 keadaan

Ada orang ingin mati
Ada orang takut mati

Ada orang ingin mati tentu dia takut hidup
Ada orang takut mati tentu dia ingin hidup

Tak mengherankan;
Ada orang ingin mati juga dia ingin hidup
Ada orang takut mati juga dia takut hidup

2 peristiwa 2 keadaan

Bila semua karena penderitaan
Itu dia sifat tercela; Putus asa

Saturday, September 02, 2006

oh

Thursday, August 17, 2006

0i

Monday, August 07, 2006

Sociability

sekalipun masing-masing penduduk bumi
(adalah raja diatas raja)
lengkap genap
dengan segala macam keperluan dan keinginan
sekalipun masing-masing penduduk bumi
(adalah raja diatas raja)
yang tak kurang satu apapun,
bahkan lebih sempurna
-dari seorang raja terkaya di dunia ini-
namun; masing-masing dari mereka
ingin berkunjung-kunjungan dan bercengkrama
sebagai tanda kasih dan cinta sesama

Friday, July 28, 2006

Ha Hi

Rakyat Perkasa Gilas Penguasa 2

Ms. Controversy

Monday, June 26, 2006

Rupa

Aku;
tidak berwujud
(Meskipun terlihat)
... ...
Oleh karena itu, mengertilah ini!
'manifestasi mutlak wujud hakiki'
Tak ada wujud hakiki kecuali Dia;
terkecuali Dia sesungguhnya tak berwujud.
Aku
(Manusia)
...
-Bukan Tunggal-

Friday, June 23, 2006

Bunga-Bunga Perubahan


Tuesday, June 06, 2006

Revo"


Revo-Revo Kill Poppys

Monday, June 05, 2006

Sketsa-Sketsa Revolusi





Pendidikan Versus Street Art


Orang yang berotak cerdas otomatis cara berpikirnya logis tanpa harus bersekolah. Benarkah seperti itu?

Ketika kata belajar yang selama ini kita kenal telah menjelma menjadi kata sekolah atau pendidikan, bisa dibilang ”mustahil” orang pintar yang berotak cerdas datang dengan sendirinya tanpa embel-embel sekolah atau pendidikan dibelakangnya. Maka tidak mengherankan jika setiap individu berlomba-lomba untuk menjadi pintar dengan belajar di sekolah atau perguruan tinggi dengan harapan mampu menjadi manusia yang berdedikasi.

Tapi apakah kita sadar, bahwa pendidikan yang terbatas pada ruang segi empat yang kita namakan kelas itu telah mereduksi ke arah dehumanisasi. Pendidikan telah menjelma menjadi arena pemaksaan untuk mempelajari konsep ilmu yang begitu banyak, usang, dan tidak berkaitan langsung dengan kehidupan dan keilmuan yang kita inginkan. Dikelas kita selalu disuguhi proses pembelajaran yang bercorak paedagogik yang hanya bisa menghasilkan budaya bisu. Disitu kita selalu diposisikan sebagai objek yang harus menuruti kemauan sang atasan, layaknya sebuah robot yang dikendalikan oleh remote kontrol. Kita hanya dilihat sebagai modal ekonomi, dengan konsep link and match, kita hanya dicetak sebagai tenaga kerja siap pakai. Sadarkah kita?

Ada semangat militerisme dalam pendidikan. Semua harus diatur, semua harus seragam, tak boleh berbeda, yang melanggar harus dihukum. Puncaknya, sistem pendidikan yang selama ini kita kenal telah membentuk dan dibentuk oleh sistem komando. Seperti Presiden mendengarkan sidang kabinet di zaman Orde Baru , mendengarkan laporan-laporan lalu memutuskan begini-begitu. Persis seperti komandan kepada stafnya. Akhirnya, masih dengan semangat militeristis tadi pelajaran dalam pendidikan telah direduksi menjadi angka. Untuk mendapatkan nilai dia harus dihafal. Disana tidak ada lagi proses internalisasi, yang ada hanyalah proses menggurui. Bahkan kita sebagai ujung tombak pembebasan, selaku mahasiswa dibuat tidak memahami hakikat pendidikan itu sendiri, karena daya kritis yang kita punya harus digadaikan dengan disibukkan oleh tugas-tugas yang menumpuk. Kita tidak bisa menolak, karena disana kita semua telah dibentuk agar bermentalitas militer yang penurut. Maka tidaklah mengherankan jika kita seringkali mendengar istilah: ”Sekolah adalah keadilan diatas kertas dan ketidakadilan yang sebenarnya”. Hal ini mengindikasikan bahwa sebenaranya ada kesalahan dari sebuah sistem kurikulum yang telah ada. Pendidikan hanya menekankan pada teori sebagai alat penjawab soal ujian, bukan untuk menjadi pisau analisis terhadap realitas yang ada. Bahkan darisana pula kita melihat adanya dominasi Negara (dibaca pemerintah) terhadap pendidikan yang hanya dipakai sebagai kepanjangan tangan kekuasaan.

Disini kita menangkap pentingnya sebuah kebebasan.

Negara ataupun Institusi sama sekali tidak berhak membatasi kebebasan. Jaminan kebebasan itu memang mutlak. Tanpa kebebasan, yang ada hanyalah kemunafikan.

Semua selalu bermula dari pendidikan. Oleh karena itu kejadian dalam pendidikan tadi telah memaksa revolusi untuk memusatkan kekuatan penghancurnya terhadap penguasa. Disana! Bukan untuk menyempurnakan pendidikan sebagai mesin Negara, akan tetapi untuk membinasakanya.

Dengan apa? Tentu saja dengan menghancurkan bahasa-bahasa penguasa dalam pendidikan dengan metode pendekatan ke arah yang lebih membebaskan yang berfokus pada arah pembebasan. Street Art sebagai seni revolusioner dan kita jiwa-jiwa adalah jawabnya. Menghancurkan dinding-dinding penguasa dengan mencoretkan kata REVOLUSI sebagai penanda kita sebagai penguasa lokal telah merekonstruksi dan menguasai pendidikan. Itu harus dilakukan! Karena secara frontal inilah yang membuat kita akan lebih menjadi kritis dan kreatif, sehingga kebenaran tidak lagi akan dimonopoli oleh penguasa, dan bila sudah seperti itu dominasi penguasa dalam pendidikan akan hancur sekaligus akan membebaskan kita dari belenggu dominasi penguasa.

MERDEKA!!!!

Monday, May 22, 2006

The Almighty

Photobucket - Video and Image Hosting

[Tanda]

Dalam keheningan alam yang dahsyat
Kuperhatikan apa yang ada di langit dan bumi
Di langit;
Aku melihat putaran bumi, bukan matahari terbit.
Dan kembali
Kuperhatikan apa yang ada di langit dan bumi
Dalam keheningan alam yang dahsyat
Aku melihat Dia; Satu
Indah bagaikan mutiara
Begitu hidup dan bergerak dalam aliran persepsi.

Tuesday, May 09, 2006

Represents Voice Of The Silent 0

Lihatlah pada tembok atau ruang publik dijalanan. Dalam posisi tertentu, jiwa-jiwa pemberotak telah membentuk persepsi yang sangat mencengangkan. Para jiwa bebas telah berteriak keras menentang pemenjaraan kehendak. Dengan sikap utuh yang kukuh, sosok lebih sering tampil dengan sebuah pose, coretan, atau apapun yang dianggap setara dengan teks, bahkan dijalanan tubuh telah menjadi bahasa yang sangat kuat ketika tampil dengan berbagai bentuk dan peringai sekan berteriak. Akulah sang kehendak, Akulah kebebasan. Di jalanan, mereka mengekspresikan eksistensinya dengan berbagai tingkah yang tak pernah lepas dari apa yang dinamakan ekspresi.

Bahasa Kaum Bawah

Ada banyak jenis bahasa, namun bahasa tubuh adalah bahasa yang paling mudah dimengerti. Lihatlah manusia yang memasuki warung tegal, memasuki wilayah mudah dijangkau bersuasana informal, menjadikan tubuh bebas bergerak kesana kemari. Suasana tersebut telah mengundang tangan untuk memegang, mengambil, mencoba, atau mengembalikan barang-barang jualan yang terpampang tanpa memikirkan efek yang bukan-bukan. Beda halnya dengan memasuki wilayah formal di restoran mewah pada hotel bintang lima. Sekalipun ada peluang untuk memasuki dan menikmati namun suasana tersebut membuat tubuh mengerut. Ada ketakutan melintasi batas maya yang telah ditorehken, daya coba, daya sentuh menghilang seketika karena takut didatangi dan dibuat malu oleh pelayan berseragam wangi gara-gara tak bersepatu. Mereka mengawasi dengan curiga, pilih kasih, sembari menawarkan yang terkadang melecehkan. Tubuh dibuat terdiam bahkan menghindar.

Pada ruang-ruang publik di jalanan, tubuh bisa dijadikan bahasa yang efektif. Peristiwa tiga mei telah menjadikan bahasa tubuh para buruh berubah menjadi sosok yang teralienisasi dari sebelumnya. Para buruh berkumpul dengan bertelanjang dada dan meneriakan keadilan, dengan tangan-tangan terkepal keatas sebagai rangkaian kata yang berubah menjadi simbol pembebasan. Memang sebagian besar kejadian ini padat akan parodi, ironi, humor, paradoks, dan kontradiksi. Ada luka dicampur tawa, ada amarah dicampur duka. Ada petugas bersenjata tak berkutik pada buruh yang bertelanjang dada. Ada yang terkapar dihujani batu dan peluru, disaat bersamaan ada yang bernyanyi lantang dengan berbunga-bunga. Di jalanan ada kepentingan besar yang dipertaruhkan, disanalah tempat segala pencitraan, kemauan, dan ideologi diteriakan. Dijalanan bahasa tubuh para buruh dan kaum bawah telah menjelma menjadi sebuah bentuk penanda. Tubuh telah menjadi abjad dan bahan bicara. Ditengah maraknya kapitalisme global, tubuh telah menjadi lambang universal. Disinilah bahasa tubuh telah menjelma menjadi puisi, puisi pembebasan yang indah dan terbebas dari konvensi-konvensi baku yang memarjinalkan dan mengahancurkan eksistensi puisi itu sendiri.

Kini jelas ruang publik dijalanan adalah lahan bagi terbentuknya kesetaraan berekspresi. Disana, puisi buruh telah menjadikan ekspresi lokal bersatu dan membawa kesetaraan dalam hal reprosduksi dan distribusi teks. Disana telah dibuktikan bahwa: Puisi bukan lagi sebuah rangkaian huruf yang tersusun rapi diatas kertas dengan simbol-simbol yang selama ini banyak didorong para elite dan kaum kapitalis. Sekali lagi. Disana! Puisi telah kembali pada eksistensinya yaitu ekspresi.

Bahasa Penguasa
Ruang publik dimana pun adanya akhirnya menjadi sebuah sarana perang wacana yang dibuat oleh pihak-pihak pemakainya, baik itu untuk representasi penyadaran atau penyerangan terhadap penguasa tiran. Disana kita bisa berkesenian tanpa memerlukan aturan baku tentang aturan-aturan seni yang mengikat, kita tak perlu lagi mengakui adanya batasan tentang pemahaman. Dijalan kita tak perlu memiliki pendidikan tinggi seni atau mempelajari wacana filsafat yang mendalam untuk bisa mengekspresikan kebebasan. Disana kita bisa berjalan seenaknya. Kita tak perlu lagi ruang pamer yang ekslusif sebagai tempat pemajang karya, karena ruang publik dijalanan telah menjelma menjadi galeri dengan kita dan masyarakat luas adalah penonton sekaligus menjadi pelaku didalamnya. Disanlah tempat nyanyian yang dibisukan diteriakan. Berbaur laksana puisi buruh yang menggema.


Demonstrasi, graffiti, dan bentuk suara yang serupa adalah sebentuk aktivitas berkarya yang telah memberi warna pada pemahaman bahasa pada keramaian publik. Tak terkecuali dengan penenmpatan monumen panglima besar Jendral Soedirman dan monumen lainya yang berada disetiap jalan, monumen-monumen tresebut adalah sebuah representasi atau bahasa dari penguasa khususnya tentara untuk tetap mengingatkan masyarakat pada tata aturan yang berlaku. Dengan tekstur dan sikap kukuh yang elegan, lanskap yang yang tenang dan agung. Sebuah gambaran sosok yang seolah-olah diidamkan dengan tampil dalam sebuah pose yang seakan akan berseru. "Akulah teladan!".

Penggambaran monumen-monumen tersebut yang kerap kita lihat dijalan mengembalikan persepsi pada satu hal, betapa berharganya patung dengan peletakanya, mereka terpajang hanya memberi kesan untuk menakut nakuti bukan untuk memberi kepekaan tentang keindahan. Keberadaanya yang formal telah membuat monumen–monumen dianggap tak berbicara. Perjuangan pembebasan panglima besar Jendral Soedirman hanya dianggap sebagai konteks dan dianggap sebagai proyek. Dia tidak tampil dalam satu situasi, keberadaan monumenya tidaklah mengungkap tantang sensualitas dan gairah perjuangan, hanya sebatas koloniasi tubuh dan proyek pemitosan belaka. Disanalah bahasa penguasa telah menjelma menjadi puisi, sebuah bahasa penindasan yang meneriakan puisi kekuasaan.

Sekali lagi! Dijalanan; para suara yang di bisukan dan nyanyian yang tak pernah didengarkan harus mengawali perjuangannya, dengan menghancurkan bahasa-bahasa penguasa yang telah menindas dan memarjinalkan kaum bawah. Yaitu kita, jiwa-jiwa bebas yang memulainya.

Sunday, May 07, 2006

Represents Voice Of The Silent 2

Thursday, April 27, 2006

Erotikaroni 1

Erotikaroni 2

Erotikaroni 3

Wednesday, April 26, 2006

Poppysi Haroes Mati

Poppysi adalah anjingku, makhluk temporer yang hidup hanya sekali pembawa hura-hura setelah itu pergi menghilang entah kemana. Ibarat keinginan dalam hati, sering muncul meredup setelah itu mati. Anjingku bergaya biasa, bahkan terkesan asal. Bukan asal-asalan yang dibiasakan, asal ada peminat dia lansung mengganggu hasrat. Maklum poppysi ku itu penjilat! Sebenar dan sebenarnya dia bukan makhluk bodoh, melihat hijau matanya pun kita sadar bahwa dia itu makhluk pintar. Pintar melihat yang bodoh-bodoh akhirnya dengan bodohnya dia memanfaatkan massa dengan hijau matanya. Bodoh pintar mungkin tak ada bedanya (kita semua terbebas dari itu semua) namun dengan bodohnya membiarkan anjingku menjilat dan mengikuti setiap langkah yang kita tapakan. Itu bodoh benar namanya.

Dalam benak ini selalu dihujani banyak pertanyaan, seperti kenapa kita harus bertekuk lutut pada poppysi anjingku? Aku tahu dia lucu, anak dari poppytalisme yang menggonggong indah menawarkan ludah dengan lidah mengusap jiwa…Ah tak tertahan memang, sembari menawarkan layanan siap saji dia menggandakan kembaran dimana-mana. Akan tetapi itu aneh bagiku, karena poppysi itu makhluk biasa yang temporer, bersih namun kotor! Makhluk biasa yang selalu berjalan menjilat mengikuti tapak kaki yang telah ada. Pun begitu dengan gonggonganya yang bias dan membunuh rasionalitas. Iabarat sebuah candu poppysi bisa meledakan hati dan melumerkan otak. Dia selalu mematok batasan dan mengedepankan larangan yang seharusnya kita hancurkan. Lucu bila selama ini banyak manusia meneriakan kebebasan tapi membawa poppysi dalam hatinya. Ah mungkin inilah irasionalitas! Kebiasaan semu.

Bila diselidiki lebih dalam, poppysi anjingku ini adalah makhluk bodoh yang pemalas. Pernah saat saudaraku marryceh di guncang bencana, dia tidak hadir diasana. Melihat bahkan membantu pun tidak. Dia hanya menggonggong menawarkan sebuah kertas yang berisi liur. Cih, dalam liur kertasnya banyak bercak yang meneriakan kepenatan otak sedih atas marryceh. Hanya sebatas itu, padahal dia punya tenaga dan kotoran rupiah di luar bulu-bulunya. Bahkan aku lebih terbahak lagi di saat poppysi bersama pemuka agama berada dalam satu panggung berucap mantra tentang apa dan yang seharusnya dilakukan pemerintah atas bencana marryceh. Ah dasar nonsen! Mungkin itu yang akan dikatakan Sutardji bila dia masih hidup. Memang benar, selalu dan selalu keprihatinanku akan kebiasaan jeleknya telah membuat ku pergi sendiri menolong marryceh. Disana, saat berbincang dengan saudaraku itu, dia hanya berucap biasa "Itu wajar, Biarkan anjingmu seperti itu. Maklum dia itu makhluk bodoh apatis yang tidak akan pernah tahu dan peduli pada ku, sebelum dan sesudah bencana ini". Saat itu aku menangis teringat anjingku poppysi yang hanya mengejar pujian dan popularitas semata.


Tahukah kalian? pernah sekali anjingku itu mati dibunuh Jean-Michel Basquiat di tembok bobrok jalanan New York? Mungkin tahu, tapi tak sadar. Dianggap wajar karena setelah temanku itu mati, anjingku hidup kembali. Aneh memang anjingku ini, makin banyak yang membunuh semakin populer dia dimata orang-orang pintar, eh bodoh. Bila tak percaya coba tanya sekali lagi pada Sutardji di alam bhaka sana, dia pernah melakukan hal yang sama di TIM (Taman Ismail Marzuki) dengan menggantukan sebongkah daging dan dibentuk hati di tahun 70-an. Dia membunuh poppysi. Namun sayang, mati satu tumbuh seribu itulah jargonya. Ironis memang, tapi itulah kenyataan. Poppysi hidup kembali.

Selain poppysi sebenarnya masih ada banyak anak-anak lain dari poppytalisme ini, ada poppyart, poppymuse, poppydiologi, poppyagama, poppyamik, poppyavel, poppyagalomania, …, …, dan poppy-poppy lainya. Sebenar dan sebenranya Indonesia tak mengenal kata poppy (Buyut dari poppytalisme dan anak-anaknya). Namun berhubung Negara-ku ini adalah Negara berkembang , maka dianggap wajar jika masyarakatnya suka latah dan mengadopsi poppy-poppy ini dari negara maju. Dimana lagi kalau bukan dari Amerika dan Eropa sahabat kita tercinta. Namun sayang dan sangat sangat disayangkan pengadopsian tidak berjalan sempurna, yang terjadi hanyalah kepincangan pemahaman. Pengadopsian sering diasalah artikan.

Aaahhrrrgg...Aku muak dengan semua itu! Dalam hati sekarang muncul sebuah gejolak. Ibarat tikus. Iya, poppysi ibarat tikus, satu jadi teman banyak jadi hama. Dalam hatiku terngiang kata mati mati mati mati poppysi harus mati, semua poppy harus mati. Dadaku bergejolak dada mendadak tegak. Kini hati jadi belati, Harus kubunuh poppysi. Namun, sebelum semua itu terjadi! Aku harus membunuh diriku sendiri. Membunuh diriku dari ketergantungan poppytalisme yang menjalar dalam benak. Akan kubunuh diriku yang dalamnya telah terasuki oleh poppy-poppy. Akan kulakukan itu semua walaupun dia anjingku ataupun diriku. Jangan halangi jalanku aku tak mau I Made Wianta mendahuluiku, aku tak mau orang lain yang membunuh anjingku. Aku ingin tangan dari dada ku ini yang membunuh poppysi anjingku. Egois namun inilah hati penuh belati. Kecintaanku pada kehendak bebas telah membawaku pada sebuah gejolak kehendak. Sekarang aku berkehendak maka aku ada, aku ada karena aku bahagia, dan aku bahagia karena dia mati.

Poppysi haroes mati!

Friday, April 21, 2006

Martyr


Sayang


Termenung bukan ku tak mau, kecintaan ku akan sunyi
telah membuat ku mati terbunuh oleh sepi.

SA
YA Lolongan kehampaan yang kuteriakan,
NG tak terdengar lagi oleh mereka yang bergantung diri.

Kepak Sayap Kupu Kupu Revolusioner

Babi Hutan

Sunday, April 16, 2006

Dalam Bayangan Kami

Dalam bayangan Kami
Cinta, lihatlah Aku...
Manusia biasa
yang bila Aku berkaca
Di cermin
Engkau akan melihat Dia
laki-laki mulia
yang sangat Aku yakin
Dia tak pernah ada.
Oh Cinta, lihatlah Dia...
(Isa) Almasih putra Maria
yang bila Dia berkaca
Di cermin
Engkau akan melihat Kami
laki-laki biasa
pun yang sangat Engkau sadar
bahwa Dia manusia.

Sunday, April 09, 2006

Freedom

Terbatasnya ruang dan waktu telah membuatku terkurung oleh ketiadaan. Sekarang aku bukan lagi manusia berkehendak, akan tetapi manusia sulit, sulit tulalit yang sadar akan keterbatasan kekangan yang selalu membelit. Kebebasan adalah sadar akan keterbatasan, keterbatasan adalah kebebasan. Aku percaya itu. Aku ingin hidup, bukan mati hidup bukan mati dengan ketergantungan itu mauku! Menjadikan hidup adalah mati mati adalah hidup dua kata satu makna empat huruf berjuta rupa. Menghancurkan batasan...Membuat letupan besar kesadaran bahagianya hidup mati bebas tanpa batas yang tak bisa kita bayangakan. Jadikan hidup adalah mati yang tak ada lagi aturan tak terbayang dan tak ada batasan tuk membayangkan. Sekarang! Dalam hidup bukan lagi sebuah keiginan yang harus muncul, akan tetapi sebuah ledakan,ledakan akan kehendak, kehendak bebas tak terbatas bagai seorang pemberontak yang selalu menelan merah darah untuk menang. Menang dari kehidupan yang membuat kita harus mati. Iya!...Itu adalah sebuah kebenaran, kebenaran sebuah kebebasan yang kita tahu itu adalah keyakinan. Semua berkehendak, Aku berkehendak, menang ciptakan keadaan yang tak terhingga oleh semesta. Ego go go gO Goooooooo...Aku pergi dan membawa semua keterasingan yang membahagiakan, keterasingan akan kesadaran membuat kenyataan. Aku pergi memebaskan sebuah kehendak dari kurungan keterbatasan atas manusia dua panca indra. Bas bas bebas bas be bassssss bllllasssssstttt seperti mengeluarkan sebuah angin atau angan dalam pantat menghilangkan ketegangan yang menjadikan penjara berteralis...Aku bebas aku bebas teriakan aku bebas dari sadar akan keterbatasan. Aku ada! Sekarang aku ada da dalam dada da dada Ku berkehendak maka aku ada sekarang aku ada setelah membebaskan semua yang ada aku ada karena aku bahagia bahagia ada karena aku puja, aku puja bahagia mencipta mati angankan bebas! Aku bebas...Bahagia bebas...Bebas bahagia...Aku bebas bahagia karena aku ada tunjukan dada. Da da da man a dad amu?

pelita sastra